Artikel kali ini akan membahas tentang Dokter Di Cintai dan Mencintai kaum duafa Khususnya di indonesia dan semoga menginspirasi dan menarik untuk disimak.
1. DOKTER LIE DHARMAWAN

Bernama lengkap Dr. Lie Augustinus Dharmawan, Ph.D, Sp.B, Sp.BTKV dengan nama kecil yakni Lie Tek Bie. Beliau lahir di Kota Padang pada tanggal 16 april 1946. Dr. Lie Dharmawan ini terlahir dalam keluarga yang amat miskin dan serba kekurangan. Lie Dharmawan mempunyai saudara berjumlah enam orang, ketika ia berumur sepuluh tahun, ayahnya meninggal dunia jadi hanya ibunyalah seorang diri yang hanya tamatan Sekolah Dasar berjuang keras menyekolahkan ketujuh anaknya yang masih sangat kecil termasuk dr. Lie Dharmawan sendiri. Semua perkerjaan ia lakoni demi bertahan hidup dan demi anak-anaknya termasuk mencuci baju, memasak, membuat kue, hingga menjadi pencuci piring.
Sebab lain mengapa Lie Dharmawan ingin menjadi dokter karena ia melihat sendiri adiknya meninggal karena penyakit diare. kedua hal itulah yang membuat lie darmawan bertekad kuat untuk menjadi dokter.Di tahun 1965, Lie Dharmawan kemudian lulus SMA dengan prestasi yang cemerlang, berkali-kali ia mendaftar di fakultas kedokteran yang ada dipulau Jawa namun ia tidak pernah diterima.ia diterima masuk di fakultas Kodekteran di Universitas Res Publica (URECA) dimana universitas ini didirikan oleh para petinggi organisasi Badan Permusjawaratan Kewarganegaraan Indonesia tahun 1958 namun baru bebrapa hari kuliah, kampusnya dibakar oleh massa. Akhirnya ia tidak dapat melanjutkan kuliuahnya, dan Lie Dharmawan kemudian memutuskan untuk menjadi pekerja serabutan untuk mengupulkan uangnya membeli tiket ke Jerman untuk melanjutkan cita-citanya.Lie Dharmawan pun mendaftarkan diri ke sekolah kedokteran di Berlin Barat, Jerman namun tanpa dukungan beasiswa. (diteriman di fakultas Kedokteran Free University, Berlin Barat). Tahun 1974, Lie berhasil menyelesaikan pendidikannya dan mendapat gelar M.D. (Medical Doctor). Empat tahun setelahnya,akhirnya lulus dengan membanggakan diaman ia lulus empat spesialisasi yakni ahli bedah umum, ahli bedah toraks, ahli bedah jantung dan ahli bedah pembuluh darah. Cita cita semasa kecilnya akhirnya tercapai.
dr. Lie Dharmawan Kembali Ke Indonesia
Selama enam bulan Lie di Semarang kemudian ke RS Rajawali, Bandung. Tahun 1988, Lie berkarir di RS Husada, Jakarta hingga saat ini. Mendirikan yayasan DoctorSHARE dan Rumah Sakit Apung Dr Lie Darmawan tidak pernah lupa kata-kata Ibunya sejak kecil yang ia pegang terus sampai ia berhasil menjadi dokter dengan keahlian empat spesialis bedah.
"Lie, kalau kamu jadi dokter, jangan memeras orang kecil atau orang miskin. Mungkin mereka akan membayar kamu berapapun tetapi diam-diam mereka menangis di rumah karena tidak punya uang untuk membeli beras".
Inspirasi ini melekat kuat dalam benak Lie. Bersama DoctorSHARE, Lie mendirikan Rumah Sakit Apung (RSA) Swasta, yang diberi nama KM RSA DR. LIE DHARMAWAN. Pelayanan medis dalam RSA dilakukan dengan cuma-cuma. Dari koceknya, ia mewujudkan mimpi, membangun rumah sakit apung. Kemudian berlayarlah Lie Dharmawan mengunjungi pulau-pulau kecil di Nusantara, mengobati ribuan warga miskin yang tak memiliki akses pada pelayanan medis. Tujuan didirikannya RSA ini adalah untuk melayani masyarakat yang selama ini kesulitan mendapat bantuan medis dengan segera karena kendala geografis dan finansial, terutama untuk kondisi darurat, khususnya bagi masyarakat prasejahtera yang tersebar di kepulauan di Indonesia. Rumah Sakit Apung milik dr. Lie hanyalah sebuah kapal sederhana yang terbuat dari kayu, yang di dalamnya disekat-sekat menjadi bilik-bilik yang diperuntukkan untuk merawat pasien-pasien inap ataupun pasien-pasien pasca operasi. Sehingga dr. Lie dianggap sebagai dokter gila, karena keberaniannya menggunakan kapal kayu mengarungi pelosok negeri ini untuk membantu saudara-saudara kita yang kurang mampu tetapi memerlukan pelayanan kesehatan segera.
2. DOKTER LO SIAW GING

Nyaris seluruh penduduk Solo tentu telah tahu atau mengenal nama dr Lo Siaw Ging, dr Lo Siaw Ging jadi buah bibir di Solo ataupun di sasomed dikarenakan kedermawanannya, walaupun diusia lanjut, beliau berpraktik jadi dokter, dr Lo Siaw Ging tidak meminta pendapatan dari pasien yg beliau obati, bahkan terkadang dia meringankan pasien yg tak mampu menebus obat, factor ini menmutar balikkan yg biasa orang bicarakan "Orang miskin dilarang sakit" sebab anggaran berobat mahal. Dr Lo Siaw Ging sang Dokter Teladan ini mempunyai visi yg sama bersama dr lie Dharmawan yg pun salah satu dokter yg layak utk diteladani sebab mereka amat peduli bersama orang yag kurang sanggup. Tak seperti rata rata dokter dokter yg mempunyai kehidupan yg tajir atau berkecukupan luar biasa.dr Lo Siaw Ging Lahir di Magelang, 16 Agustus 1934,tumbuh dalam suatu keluarga keturunan Tionghoa yg yakni pebisnis tembakau yg moderat. Ayahnya bernama Lo Ban Tjiang & ibunya bernama Liem Hwat Nio, keduanya berikan kebebasan pada anak-anaknya buat pilih apa yg dinginkan. Salah satunya yakni dikala Lo mau menyambung SMA ke Semarang, dikarenakan beliau mempunyai anggapan tak ada SMA yg kualitasnya bagus di Magelang saat itu.Setamat SMA, Lo Siaw Ging menyebut keinginannya buat kuliah di kedokteran. Disaat itu, ayahnya cuma berpesan jikalau mau jadi dokter jangan sampai berdagang. Sebaliknya kalau mau berdagang, jangan sampai jadi dokter. Rupanya, nasehat itu amat sangat membekas di hati Lo. Tujuan nasehat itu, menurut Lo Siaw Ging, satu orang dokter tak boleh menguber materi semata lantaran pekerjaan dokter yakni menopang orang yg membutuhkan bantuan. Seandainya cuma mau menguber keuntungan, lebih baik jadi pedagang yg berarti "Jika mau tajir janganlah jadi Dokter namun jadilah satu orang pedagang." ”Jadi siapa serta pasien yg datang ke sini, miskin atau tajir, aku mesti melayani dgn baik. Meringankan meringankan orang itu tak boleh membeda-bedakan. Semuanya mesti dilakukan dgn ikhlas. Profesi dokter itu menunjang orang sakit, bukan jual obat,” Beliau tidak membedakan pasien tajir & miskin. justru geram kalau ada pasien yg menanyakan ongkos memeriksa padahal dirinya tidak miliki duit. Bahkan, tidak cuma membebaskan biaya brobat, terkadang dr Lo Siaw Ging serta mempermudah pasien yg tidak bisa menebus resep. Beliau bakal menuliskan resep & meminta pasien membawa obat ke apotek tidak dengan mesti membayar. Terhadap tiap-tiap akhir bln, pihak apotek yg dapat menagih harga obat pada sang dokter. Perlakuan ini bukan cuma utk pasien yg memeriksa di lokasi prakteknya, tetapi serta utk pasien-pasien rawat inap di rumah sakit tempatnya bekerja, RS Kasih Ibu. Alhasil,mesti membayar tagihan resep antara Rupiah 8 juta sampai Rupiah 10 juta tiap-tiap bln. Seandainya anggaran perawatan pasien pass akbar, contohnya, mesti menjalani operasi, Lo tak menyerah. Dia bakal turun sendiri buat mencari donatur. Bukan sembarang donatur, lantaran cuma donatur yg bersedia tak disebutkan namanya yg bakal didatangi Lo. Alumni dari Kampus Airlangga th 1962 yg pernah mencicipi pendidikan di Manajemen Administrasi Rumah Sakit di Kampus Indonesia ini sempat menjabat sbg Direktur Mutlak Rumah Sakit Kasih Ibu, Solo, musim 1981-2004. Sesudah pensiun dari kursi direktur, suami dari Maria Gan May Kwee tersebut masih melayani pasien di rumah sakit yg sama & di ruang praktiknya sekaligus rumahnya di Jagalan, Jebres, Solo, hingga sekarang ini. Tiap-tiap akhir bln, apotek langganan dokter Lo Siaw Ging bakal memberikan tagihan obat yg besar nya bervariasi antara beberapa ratus ribu sampai sepuluh juta per bln. Utk pasien yg sakit parah, Di tengah anggaran obat-obatan yg mahal, layanan rumah sakit yg tidak jarang menjengkelkan, & dokter yg paling sering mengutamakan materi, keberadaan Dr Lo Siaw Ging benar-benar seperti embun yg menyejukkan.
3.DOKTER FX SUDARTO

Usianya sudah lanjut, yakni 67 tahun. Namun semangatnya untuk mengabdi ke masyarakat tak pernah surut.Dan bagi warga Abepura, Papua, dia biasa disebut dengan julukan 'Dokter Rp 2000'. Lebih dari 30 tahun Dr Sudanto mengabdikan hidupnya sebagai dokter di Abepura. Untuk berobat kepadanya, warga tak perlu mengeluarkan banyak duit. Cukup Rp 2000. Bahkan kalau memang tidak punya uang sama sekali, gratis pun jadi. Karena itulah Sudanto terkenal dengan panggilan 'Dokter Rp 2000'. Dr Sudanto memang sudah pensiun sejak tahun 2003. Meski demikian, dia tetap membuka praktek di rumahnya di distrik Abepura. Setiap harinya warga yang datang berobat sekitar 100. Jumlah itu bisa bertambah menjadi dua kali lipat bila sehabis liburan. "Jam praktek biasanya mulai jam 7 pagi hingga sore. Tapi kalau masih banyak bisa sampai malam,".Sudanto mengabdikan diri di Papua begitu lulus dari Fakultas Kedokteran Umum (FKU) UGM tahun 1976. Saat itu, FKU UGM masih di kompleks Ngasem, Kraton bukan di Bulaksumur seperti sekarang ini. Setelah lulus, mendaftarkan diri ikut program Dokter Inpres. Dia kemudian ditempatkan di wilayah Asmat Irian Jaya (Papua). Selama 6 tahun hingga 1982 dia bertugas di Asmat dengan melayani 4 kecamatan terpencil.Wilayah tugasnya benar-benar di pedalaman. Setiap hari Sudanto harus berjalan kaki keluar masuk hutan dan rawa untuk menjangkau satu desa ke desa lainnya. Pasiennya banyak yang tak mampu membayar jasanya dengan uang. Mereka hanya membayar dengan sagu, rempah-rempah atau kayu bakar dari hutan."Pasien paling banyak menderita malaria akut, infeksi saluran ernafasan, serta kurang gizi," kata pria kelahiran Karanganyar, Kebumen, Jawa tengah, 5 Desember 1942 itu. Sudanto menjadi dokter Inpres sampai tahun 1982. Selanjutnya dia bertugas di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Abepura hingga pensiun pada tahun 2003. Setelah pensiun, ayah lima anak ini membuka praktek pengobatan di rumahnya di Abepura. Dia juga mengajar di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura hingga sekarang. Termasuk juga mengajar di program studi Pendidikan Jasmi dan Kesehatan (Penjaskes) FKIP Uncen serta beberapa perguruan tinggi swasta di Jayapura. Pasien hanya membayar biaya periksa. Sedang obat-obatan, alat suntik dibeli pasien di apotek yang terletak didekat tempat prakteknya. "Hanya memeriksa kondisi pasien saja. Banyak pasien yang merasa sudah sembuh setelah diperiksa. Semua obat yang ada adalah obat generik," pungkas suami dari Elisabeth S, perempuan keturunan Ambon-Manado. Selain mengobati pasien, Sudanto juga mengajar di berbagai perguruan tinggi swasta. Dulu ia mengajar di program studi Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (Penjaskes) FKIP Universitas Cendrawasih (Uncen) serta beberapa perguruan tinggi swasta di Jayapura. Namun, kini ia hanya mengajar di Uncen dan Universitas Sains dan Teknologi Jayapura. Banyaknya pasien dan tugas mengajar tentu membuat pria kelahiran Kebumen itu merasa lelah. Namun, ketika lelah datang ia cukup minum air putih yang banyak dan sering bergerak. Namun, pria ini bukan tipe yang senang berolahraga. "Kalau lelah minta dibuatkan kopi dan minum air mineral," katanya. Sudanto memang selalu mengobati orang-orang sakit. Tapi, ia jarang sakit. Sekali sakit, Sudanto lebih memilih beristirahat dibanding minum obat. "38 Tahun saya ketemu orang sakit, saya jarang sakit. Saya paling tidur istrihat. Kalau sakit saya jarang minum obat. Kalau demam didiami saja sampai sembuh sendiri," ujarnya. Tak hanya memiliki hati yang mulia kepada sesamanya, Sudanto juga termasuk penyayang binatang. Berawal dari kasihan dengan seekor kucing yang ditemuinya di jalan, ia mulai memeliharanya. Dan kini kucing itu telah beranak-pinak hingga 20 ekor.Dr Sudanto praktik mulai pukul 07.00 WIT hingga 12.00 WIT.
4.DOKTER MARIA RETNO SETIJAWATI
Maria Retno Setijawati namanya. Ia biasa dipanggil dokter Maria. Perempuan paruh baya ini masih terlihat begitu bergasnya. Meski dilihat secara fisik, badannya kecil pun dengan kakinya yang mengecil. Maria memang menderita polio sejak Balita. Meski mengalami keterbatasan, ia tak patah arang. Ketekunan dan kerja keras itu membuahkan hasil. Ia menjadi satu di antara tiga mahasiswa yang lulus tercepat di tahun 1988.Ucap syukur memang tiap hari selalu dilakukan oleh Maria. Ia melakoni rutinitas hidup yang mulianya tanpa bebas. “Bagi Maria Retno Setijawati yang penting tiap hari bersyukur dan menjalani hidup ini layaknya air yang mengalir, “ Dokter Maria retno Setijawati Lulus dari Fakultas Kedokteran Umum di Unissula (Universitas Islam Sultan Agung) Semarang tahun 1989,” Tempat bliau bekerja di Puskemas Gajahan, Pasar Kliwon, Solo.Semenjak 1990, Maria sudah mulai bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS). Wanita berusia 52 tahun itu sempat bertugas di Puskemas Manahan, Banjarsari selama sepuluh tahun. Kemudian dia bertugas di Puskesmas Sangkrah, Pasar Kliwon selama sepuluh tahun. Sebelum akhirnya dia menjabat sebagai kepala UPTD (Unit Pelaksana Teknis Dinas) puskemas Gajahan, Pasar Kliwon semenjak 2010. “Dokter Maria sudah dikenal sejak lama karena kepeduliannya terhadap masyarakat miskin. Bila ada masyarakat yang kurang mampu berobat padanya, maka biaya obat akan disubsidi secara pribadi oleh beliau, dilakukan dokter yang memiliki hobi bertraveling, membaca buku dan menonton TV semenjak dia mulai mengabdi di bidang kesehatan.
Untuk sementara sampai disini dahulu artikel tentang "Dokter Di Cintai Mencintai Kaum Duafa Di Indonesia", kemungkinan sangat besar masih banyak yang belum terekpost media para dokter yang Di Cintai Mencintai Kaum Duafa karena tempat/jona/medan yang sangat susah ditembus dengan kendaraan. Bagi sahabat yang memiliki bahasan atau informasi seperti judul artikel ini tolong kirimkan ke E-Mail onthereal0007@gmail.com agar kita bisa saling berbagi informasi antar sesama terimakasih dan semoga dapat memberikan inspirasi bagi kita semua.
Referensi:www.biografiku.com
http://nampak-tilas.blogspot.com
http://joglosemar.co
http://.timlo.net
www.intipesan.com